Membaca buku harian Gie membuat saya berpikir akan anak manusia yang haus akan kemanusiaan. Seorang anak yang mendamba hidup selayaknya manusia normal namun ia tak bisa. Kemelut hidup telat terbentang lebar di depan mukanya dan akan terus terbentang. Seperti katanya, "Perjuangan tak bertepi atau berbatas". Saya melihat ironi kehidupan dia sama dengan saya ataupun yang lainnya. Kami bersembunyi dalam senyum palsu menahan himpitan rasa kemanusiaan kami dan bergerak sejurus hidup. Gie adalah seorang idealis murni dan tetap begitu sampai maut menjemputnya di puncak Mahameru. Terperangkap gas beracun dan bertindak aneh. Saya jadi teringat sebuah film, berdasarkan kisah nyata pula, yang serupa. Judulnya Into The Wild. Alexander Supertramp, sang tokoh, mati keracunan tanaman yang ia makan saat mencoba bertahan hidup di padang Alaska. Gie dan dia punya persamaan. Mereka sama-sama berjuang melawan hipokrit, imperialisme, ketidakadilan, ketamakan, dan saya rasa mereka sama-sama membenci uang. Mereka sama-sama penyuka politik dan berjuang dalam tameng kejujuran. Dan mereka memilih menjadi intelektual yang mandiri dengan segala resikonya, sendirian dan menderita.
Apakah ternyata pejuang keadilan justru harus mati sebegitu cepat, sebegitu sendiri dan kesepian? Apakah mereka yang berusaha menenggakkan tombak keadilan justru diasingkan dan diadili semua orang? Bahkan Munir pun mati diracun saat perjalanannya ke Belanda. Diatas pesawat bahkan!
Saya tak ubahnya berpikir bahwa menjadi seorang yang berusaha berbeda dari yang lain penuh resiko berbahaya yang seringkali tak pelak dihindari. Jadi ibaratnya, mereka telah meramal jalur hidup mereka sendiri. Mengerikan bukan?
Kembali ke Gie, saya ingin sekali bertemu dengan dia, berbicara dengan seorang idealis murni yang rindu akan hidup kemanusiaannya. Dimana saat ia putus asa dengan kehidupan cintanya yang selalu berujung kandas. Dimana dia selalu menulis pada buku hariannya betapa semua orang, khususnya ayah dari pacarnya, memuji keberaniannya tapi melarang anaknya untuk terus dekat dengan Gie dengan alasan bahaya. Ya, dia adalah seorang yang amat berbahaya. Banyak orang takut akan pendirian dan prinsip yang dia pegang. Betapa hebatnya dia dalam menjalani hidup.
Entah banyak pilihan hidup menantang di depan saya, menjadi realis, oportunis, apatis, atau idealis. Menjadi oportunis sangat enak, hidup bisa menimang uang dan keamanan hidup. Menjadi idealis harus memikirkan resiko akan kelangsungan hidup. Menjadi realis tak berarti pasrah tak berarti radikal. Menjadi apatis tak ubahnya hidup dalam dunia sendiri. Entahlah, menjalani hidup sudah merupakan resiko, sekalian saja timpali dengan resiko yang lain.