Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran kami akan alam indah Pangandaran, khususnya Green Canyon atau biasa orang lokal menyebutnya Cukang Taneuh. Ya, cerita perjalanan kami berawal saat hari Jumat 26 Februari 2010. Teriknya langit Jakarta tak menyurutkan kami untuk memulai perjalanan agak panjang dan melelahkan yang dimulai dari AC. Sembari menunggu salah seorang teman datang, kami berbincang dan menghayalkan alam keindahan Green Canyon. Tepat pukul setengah dua siang kami berangkat menuju terminal bus Kp. Rambutan, setelah sebelumnya menyambangi rumah salah seorang teman kami untuk mengambil beberapa perbekalan untuk nanti disana. Perjalanan ke Kp. Rambutan tidak terlalu lama karena keadaan Jakarta tidak terlalu ramai, sampai disana sekitar pukul empat sore tepat. Kami sempatkan untuk berfoto sejenak di depan palang terminal, menandakan perjalanan dimulai dari sini dan akan berakhir disini tentunya.
***
Kami diharuskan menunggu bus Perkasa Jaya jurusan Jakarta-Pangandaran yang baru akan tiba pukul setengah enam dan berangkat sekitar pukul enam. Benar! Bus ini tiba dan berangkat tepat waktu, jadi kami tak terlalu membuang waktu banyak menunggu.
Pukul enam sore waktu setempat kami meluncur menuju Pangandaran, oh iya kami berlima kebetulan mendapatkan tempat duduk paling belakang, ya setidaknya cukup membuat nyaman perjalanan yang kira-kira memakan waktu lebih kurang delapan jam dengan bus non-ac yang bertarif Rp 55.000,00, yang mana tidak terlalu mahal menurut kami.
Bus meluncur cepat melewati kemacetan Jakarta yang sudah mulai menuju arah tol Cipularang. Sementara ini perjalanan kami hanya akan diwarnai jalanan lurus tol. Cukup lelah sedari siang, beberapa dari kami memutuskan untuk tidur sejenak sambil mendengarkan lagu mengisi kebosanan selama perjalanan panjang ini. Untung keadaan tol saat itu terbilang lancar, mengingat bertepatan dengan kami berangkat adalah hari libur nasional, hari Maulid Nabi.
Perjalanan tidak begitu terasa sampi kira-kira pukul setengah sembilan malam kami tiba di pemberhentian di daerah Nagreg. Kami memutuskan untuk mengisi perut di warung setempat yang harganya sangat terjangkau, untuk seporsi mie rebus Rp 3000,00 ditambah gorengan dan kopi susu penghangat badan. Untuk ini biaya yang kami habiskan tidak banyak. Menurut penjaga warung setempat, memang bus Perkasa Jaya jurusan Pangandaran biasa rehat di sini, baik saat berangkat dari Jakarta, maupun sepulangnya.
Tak lama bus istirahat, sekitar pukul sembilan malam perjalanan kembali dilanjutkan. Melewati daerah pemukiman pinggir kota yang jalannya berkelok-kelok dan agak gelap, bus tetap saja meluncur deras. Sampai tengah malam kami sudah melewati daerah Ciamis, Banjar dan Banjarsari. Tepat sesuai perkiraan, pukul dua malam kami sudah tiba di Pangandaran, tepatnya di terminal bus Pangandaran. Terminal bus ini dekat sekali dengan pintu masuk ke Wisata Pantai Pangandaran(West Beach), jadi ya meskipun kami ditawarkan untuk naik becak, kami memutuskan untuk jalan kaki saja sampai ke penginapan kami, yang terletak agak ke dalam dari pintu masuk. Setiap orang, khususnya pejalan kaki ditarik bayaran Rp 2.500,00/orang, dan untuk pemakai kendaraan tentunya ada tarif tersendiri yang lebih mahal.
Jalan masuk ke dalam, ke area pantai dan penginapan agak jauh dari pintu gerbang masuk, kiri kanan sawah dengan pemandangan khas daerah tropis pantai, pohon kelapa yang tinggi semampai. Sayang, penerangan sama sekali tidak aktif, meskipun jalanan dan trotoar yang ada sudah lumayan rapi dan memadai. Jadilah kami jalan dalam gelap sampai menuju penginapan yang sudah sebelumnya di-booking, Hotel Mutiara Selatan. penginapan sederhana ini mematok harga Rp 100.000,00/malam untuk kamar standart dan Rp 300.000/malam untuk family room. Di sekitarnya pun banyak hotel serupa meskipun ada beberapa hotel kelas menengah ke atas yang kira-kira seharga Rp 250.000,00/malam untuk kamar standart. Kami menyesuaikan dengan kantong khas mahasiswa saja, jadi kami memilih opsi pertama. Pukul tiga pagi kurang seperempat kami tiba di penginapan, namun karena ada kesalahan booking, yang mana menurut kami adalah kesalahan penginapan, kami terpaksa menunggu sampai pukul tujuh pagi supaya tidak dihitung menginap dua malam. Sembari menunggu, kami memutuskan untuk ke pantai saja, menikmati udara sambil mencari pengisi perut sekalian duduk melepas lelah.
Pantai-nya hanya berjarak lima menit dari penginapan, dengan warung yang selalu buka 24 jam. Kami rehat di salah satu warung sambil memesan mie goreng plus nasi, yang mana sekali lagi terjangkau dengan kantong, dengan minuman air kelapa segar. Sebelum kami makan, kami sempatkan duduk-duduk sejenak di pinggir pantai. Udara angin laut segar dengan ombak keras khas Pangandaran membuat lelah kami tak terasa. Kami beristirahat di warung temaram sambil menyantap pesanan, mengobrol, dan menyetel lagu reggae, rasanya lelah tak lagi kami rasakan. Alam pantai terlalu indah.
On the beach in Hawaii
I wish you were here with me, walking on the beach in Hawaii
playing on the golden sand, looking at the ocean now I understand
love is like the open sea, and I wish you were here with me
on the beach in Hawaii
-Ziggy Marley-
Waktu terasa cepat berlalu. Matahari mulai menampakan sinarnya di ujung timur jauh. Sinar mulai menerangi pantai dan pesisirnya. Laut mulai tenang, dan lampu-lampu warung mulai dimatikan. Si pengambil kelapa mulai beraksi memanjat pohon mengambil buah kelapa segar langsung dari pohonnya. Orang-orang mulai bangun dan berjalan kaki menuju pantai, dan artinya hari telah pagi, menandakan kami harus kembali ke penginapan, menaruh barang bawaan sambil bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Pukul tujuh tepat kami sampai di penginapan dan langsung mandi dan masing-masing menyiapkan perbekalan berupa baju ganti yang nantinya akan dibawa untuk ke Green Canyon. Tanpa buang waktu, kami sudah siap dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju terminal untuk nyarter atau menyewa angkot menuju Green Canyon. Rupanya supir angkot setempat telah paham dan menawarkan harga yang sangat bersahabat, Rp 110.000,00/hari sampai Green Canyon, bisa ditambah jadi Rp 150.000,oo jika ingin sekalian ke Batu Karas dan Batu Hiu. Kami memutuskan hanya ke Green Canyon saja. Pukul sembilan pagi kami berangkat dan hanya memakan satu jam perjalanan saja untuk sampai ke sana.
Akhirnya sampai juga kami di Green Canyon. Ternyata lumayan ramai dengan wisatawan lokal juga, dan ada beberapa wisatawan asing. Kami diharuskan mengantri nomor perahu, karena bila ingin sampai ke Green Canyon harus naik perahu menyusuri sungai **** sekitar setengah jam. Per orang ditarik bayaran berupa tiket masuk Rp 15.000,00. Untuk ini saja, kami harus menunggu sampai sekitar dua jam karena antrian sangat panjang. Kami habiskan dengan berhenti di warung sekitar sedikit menyantap minuman, karena hari sangat panas sekali.
Akhirnya tibalah saatnya kami harus naik perahu dan menyusuri sungai. Untuk bisa sampai ke ujung dan mencoba berenang di sungai yang arusnya agak deras, kami harus kembali bernegoisasi dengan tukang perahu, ya dengan tarif Rp 150.000,00 kami bisa menikmati keindahan alam dibarengi dengan adrenalin menyusuri sungai berarus.
Petualangan di Green Canyon dimulai dengan menyusuri sungai berarus, bahkan di etape selanjutnya kami harus melawan arur sungai yang deras! Kami berpegangan pada batu-batu yang seolah menjadi dinding lembah. Seru sekali. Apalagi saat kami harus melompat dari Batu Payung, yaitu sebuah batu besar menyerupai payung yg tingginya kira-kira 2,5 m dari permukaan sungai. Rasanya mendebarkan. Perjalanan pulang dengan perahu, sama sepeerti saat berangkat, menjadi penutup petualangan kami di Green Canyon.
Waktu masih menunjukkan pukul dua siang, kami memutuskan untuk sejenak kembali ke penginapan. Setengah jam kemudian kami kembali ke pantai barat(West Beach) dan dilanjutkan dengan naik perahu, dengan biaya sekitar Rp 50.000,00/perahu untuk menyeberang ke Pasir Putih, tempat taman nasional. Oh iya, tukang perahu yang juga adalah guide setempat menawarkan jasa untuk mengitari pulau taman nasional tersebut dengan kembali ditarik bayaran Rp 30.000,00/orang, sayangnya kami ingin menghabiskam waktu santai di pinggir pantai saja, menikmati hari yang berangkat senja. Sampai di Pasir Putih, kami meneruskan kegiatan dengan snorkeling atau hanya sekedar tidur di bawah pohon di pinggir pantai dengan cahaya yang menusuk-nusuk dari celah pepohonan dan angin pantai yang semilir, rasanya kami bagai di surga dunia. Sambil sedikit bercengkerama dengan rusa-rusa dari taman nasional rasanya benar-benar indah.
Lelah bermain kami akhirnya kembali ke West Beach, lagipula perahu kami sudah menjemput. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, waktunya kami menikmati sunset dari West Beach.
Sunset yang indah menjadi penutup perjalanan dan petualangan kami di Pangandaran dan Green Canyon. Langit yang kian berwarna jingga dipadukan dengan suasana gelap dan awan-awan disekitar kaki langit menghasilkan suasana sangat indah. Fotografer mulai berdatangan ingin mengangkap momen langka yang indahnya jarang kami temui di pantai manapun di Jawa. Turis asing tak kalah sigapnya. Angin kembali meniupkan panggilan alam untuk bersantai di pinggir pantai, kami yang lelah bermain dan bertualang, duduk sambil membakar rokok dipinggir pantai yang mulai sepi pengunjung. Cahaya temaram.
Malamnya, sekitar pukul tujuh, kami kembali ke penginapan untuk mandi dan membereskan barang, sekalian keluar mencari makan malam yang harganya bersahabat pula di sekitar pantai. Kira-kira pukul sepuluh kami kembali ke penginapan dan berisitirahat karena esok pagi, sekitar pukul lima kami harus kembali ke Jakarta mengejar bus Perkasa Jaya yang ada sejak pukul enam sampai delapan, tentunya dengan tarif seperti biasa atau bisa mengambil bus ac dengan tarif Rp 60.000,00.
Itulah akhir perjalanan kami di Pangandaran, sampai jumpa lain waktu Pangandaran. Adios.
Jakarta, 2 Maret 2010