Sonntag, 13. Dezember 2009

hari-hari si skeptis

hidup saya bukan patung.
Statis, kaku, tak mampu menampilkan emosi bagi siapapun yang melintas di depan mata saya. Alangkah bahagianya saya jika ada sekumpulan orang berjalan penuh gairah di depan saya, melempar senyum, berjalan riang dan antusisas, bahkan menyentuh rai saya. Mungkin saya akan semakin bahagia jika mereka berfoto bersama saya. Ah, andaikan saya bukan patung, saya pasti akan merangkul mereka dengan pelukan hangat. Tersenyum bersama mereka. Tunggu dulu, apakah saya benar-benar adalah patung?
Bukan! Saya rasa, saya bukan patung. Tapi mengapa saya tidak bisa meneteskan air mata saat saya kesepian? Atau mengapa saya tidak juga enggan meronta saat saya disakiti?
Mereka bilang apa, saya dengar apa. Mereka saling mencibir, saya tahu arti cibiran itu. Mereka saling melempar pandang, saya tahu perasaan mereka. Tapi mengapa saya enggan berujar saat seekor burung kecil yang lucu, yang dulu pernah hinggap di pundak saya, kini terbang entah kemana? Ah cerita lama, cinta itu tidak logis, irreal, bengis, chaos, abstrak, egois, ironis, dan sarkastik.
Mata saya menerawang jauh ke depan. Ke arah danau, pantai, laut, dan horison. Menunggu diri saya diukir dengan martil kasar. Saat nanti, wajah saya, yang saya yakini tampan, akan dikerat dengan pisau dapur yang baru diasah. Toh, saya yakin juga, hati saya masih ada. Mata saya masih mampu menatap tajam. Kepalan saya masih kuat, sama seperti saat mereka bergantian memukulinya. Saya kuat! Toh, hujan deras seperti apapun tak akan melunturkan warna saya. Saya akan tegap berdiri seperti patung anak kecil dalam dongeng Lolerey yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Nama saya akan diukir seperti M. Toer, ayahanda Pramoedya Ananta Toer, di gerbang depan sekolah IBO di Blora sana. Saya belum kalah berperang. Seperti kata pemeo lama teruntuk Belanda, " seperti Belanda minta tanah, dikasi sehasta minta sedepa", akan saya amini. Saya mau lebih dari apa yang diberikan pengalaman pada saya. Tunggu dulu, kalian tahu kan saya ini berayahkan beton dan beribukan batu kali? Jadi saya rasa, badai bukan tandingan saya. Saya berharap, akan ada gelombang tsunami kecil-kecilan yang menghantam saya dan saya ingin tersenyum puas saat melihat sekeliling saya runtuh, tapi saya tegap berdiri. Menantang maut. Menantang angin. Menantang apapun yang berusaha merubuhkan pondasi saya. Ya, saya arogan.
Ah saya ingin ditempa! Saya ingin pergi dari tempat saya dibangun, untuk sementara dipetikan, dikirim ke manapun untuk melihat. Tapi itu masih untuk beberapa jam, hari, bulan ke depan. Sekarang saya masih disini. Untuk sementara waktu meluruskan kaki mengencangkan otot. Saya masih harus tunduk pada langit ibukota.
Masih pula saya memandangi mereka yang lewat depan batang hidung saya. Masih tetap enggan berucap saat mereka memaki saya.
Saya masih penuh dengan impian khas patung, berharap disulap peri menjadi hidup, layaknya pinokio.
Sekali lagi, saya ingin dan rela ditempa.
Tapi toh itu kan nanti, sekarang saya masih mnegisi kepala saya dengan ideologi kaum Rastafari dan catatan kecil warisan Soe Hok Gie.
Toh itu nanti, saat burung besi itu membawa saya terbang jauh ke sana, ke utara negri Bavaria. Di sebuah kota kecil tepi pantai, Wismar.

Jakarta, 12 Des 2009 21 :54 : 47
dibawah langit mendung, entah itu Jakarta, entah itu hidup saya