Mittwoch, 2. September 2009

(r)evolusi

mari berhenti sejenak berpikir bahwa bumi itu bulat
mari berimajinasi bahwa ternyata bumi itu persegi. punya delapan sudut yang tak sejalan. saling membelakangi satu sama lain dan berlagak cuek. mari berandai-andai bahwa hidup kita ibarat sudut-sudut sombong yang membentuk bumi persegi itu. saat kita menjadi sudut, kita tak akan pernah bisa meraih sudut yang satunya untuk hanya sekedar berbicara, atau bahkan saling sapa. jangankan sudut, saat kita menjadi seseorang yang berdiri di sudut mati tersebut, pilihan kita hanya terjun ke bawah, atau kembali ke posisi semula. mari kembali membayangkan, seandainya lagi kita bukan sudut, melainkan orang yang hidup di sudut-sudut persegi bumi. hidup kita hanya sebatas sudut dan sisi. tak akan pernah ada istilah mengitari, memutari, atau mengarungi. karena saat ini, dalam imajinasi kita bumi itu persegi, bukan bulat, atau lebih tepatnya elips.
untungnya, semua itu hanya imajinasi kita. untungnya bumi itu bulat, tidak punya enam sisi untuk saling membedakan, tidak punya delapan sudut untuk saling berjauhan, tapi hanya punya 1 sisi untuk bisa diarungi, diputari, atau diitari.
haruskah hidup kita seperti bumi dalam realita atau bumi sebagai imaji sesaat?